Melukis Mimpi di Tepi Pantai Napabale
25
juli 2008,hari itu langit sangat bersahabat mengiringi langkah seorang gadis 16
tahun Maharani Alayda, itulah namaku, gadis SMA yang hendak menuju kampung Pamanku di desa Kontunaga.
Dengan menaiki bis, Ku bayangkan kampung paman yang sebentar lagi ku hampiri dengan
keindahan Salah satu pantainya, yaitu pantai Napabale.Hari itu ku istimewakan
memang ke rumah paman sendiri, untuk menikmati masa liburan semesterku yang
sebentar lagi berakhir. 30 menit berada dalam bis aku sampai di halte laino,
paman sudah menungguku, segera dia melambaikan tangan, aku turun dan langsung
menaiki mobil paman, butuh 10 menit
untuk sampai di rumah paman. Paman bercerita kalau bibi telah menyiapkan
makanan special untukku. Hmmmm tak sabar rasanya segera sampai dan melahap
makanan bibi. “ Rani….iiiii “ teriak wanita paru baya itu, hehehehehe suara
bibi menyapaku aku langsung memeluknya, “ Kamu makin cantik aja yah “, “ iya
dong bi, terima kasih “. “ Ayo makan dulu, terus nanti kamu bisa istirahat “, “
iya bi lapar banget nih, tapi setelah makan aku mau langsung ke Pantai
kangennnn banget ama pantai heheheheh”, yah rumah bibi memang tak jauh dari pantai
yang indah itu. Buru – buru aku melahap makanan bibi, dan segera mengganti pakaianku lalu shalat ashar,
tak perlu beristirahat lagi. Ku pakai baju kaos putih dengan celana pendek
selutut warna pink, ku cermati arloji di tanganku, yah baru jam 03. 45, aku
ingin melihat matahari terbenam dan aku bisa berkeliling dahulu di tepi pantai.
Yuhuiiiiiii,
pantai indah itu kini di hadapanku, pasir putih yang indah nan bersih, gulungan
ombak berkejar – kejaran, hmmmmm para turis yang asyik berselancar. Dan nelayan
– nelayan desa yang tengah sibuk mengemasi ikan – ikan segar hasil dari melaut,
di tambah lagi para pedagang yang menjajakan dagangannya. Aku duduk diatas
bongkahan batu besar,menghirup udara segar ini rasanya seperti bebas melayang.
Inilah keindahan yang sesungguhnya, wajah cantik yang natural dari alam Tuhan.
Aku sungguh merindukanmu wahai pantai cantik. Angin sepoi – sepoi sesekali
menebas rambutku tak karuan, ku keluarkan kanvas Pink dan pencil pink dari
ransel Pink favoritku. Aku mulai melukis, yah aku memang hobi melukis dengan
objeknya adalah pemandangan di alam bebas, aku pernah mendapat penghargaan
sebagai pelukis handal dan itu bukan reputasi yang main – main. Entah mengapa pensil
yang tadinya di genggamanku terjatuh,aku berusaha mencarinya namun tiba – tiba sesosok
pria mendekatiku, Pria yang seperti seumuran denganku, pria yang tidak pernah
ku temui sebelumnya, wajahnya begitu memesona hatiku, siapakah dia ???? Dia
hanya duduk dengan jarak sepuluh meter dariku, oh Tuhan dia tersenyum, senyuman
yang begitu indah dan penuh ketulusan, Dia menyapaku, yah dia menyapaku, betapa
girangnya hati ini, “ Hai, ini pensilnya ” oh tuhaaaaan begitu santun tutur
katanya. Dengan tergugup aku berkata “ Te…te..te..rima kasih “. “ Adik baru ya
disini, aku baru melihatmu, perkenalkan namaku Vivaldy, panggil saja vey ”. Rasa
gerogi yang tadi segera ku sergap dan ku
ganti dengan senyum, sambil berkata “ Aku Maharani, yah aku baru datang
berlibur ke sini suasana desa yang natural aku sangat menyukainya, kalau kakak
sendiri gimana ?”…..” aku tinggal dibalik hotel itu, setiap sore aku kesini
untuk menikmati pemandangan pantai yang tidak pernah bosan ku pandangi “.
Hampir sejam ngobrol dengannya, Vey sangat ramah dan santun, kalau saja aku
adalah pacarnya mungkin aku sangat beruntung, dari ceritanya ternyata di
seorang mahasiswa. Lamunan ku pecah dengan suara Vey “ Raniiii….apa nanti kau
akan kembali lagi berlibur ke sini, aku selama ini tidak mempunyai, baru
bertemu denganmu rasanya akrab sekali, aku ingin lebih mengenalmu “. “ Hmmmmm
aku tak tahu Vey tapi akan ku usahakan”, wajah Vey berubah sedih “ Loh ada apa
Vey ? “ Kau tahu Ran…orang tuaku berpisah aku anak yang broken home keluargaku
berantakan dan ibuku menikah lagi, semenjak itu aku mengurung diri dikamar dan
tidak ingin bergaul dengan siapa – siapa, baru dirimu yang ku rasa begitu akrab,
aku kesini untuk menikmati pantai ini terakhir kalinya, namun ketika bertemu
denganmu aku merasa kau wanita yang selama ini berada di impianku A…ku
menyukaimu Rani,,,tapi a…ku” tiba – tiba Vey batuk namun batuknya seperti ada
yang anehhhh, “ Veyyyy itu darah, ada apa denganmu.. ? “ Air mataku terjatuh lalu
dia menyapu air mataku dengan sapu tangannya, Vey mengeluarkan sesuatu dari
sakunya dia memakaikan Kalung itu ke leherku sambil berkata “ Aku menyukaimu
Rani, namun aku harus pergi…Aaaaaku terkena Kanker Leukimia dan sebentar lagi
aku akan tiada, Vey kembali batuk darah bercucuran di tangan Vey, Vey pucaaaat,
namun Vey …..Vey butuh pertolongan dokter aku berteriaaakkk “ Toloooooonnng “
namun Vey tetep tersenyum aku memeluknya, aku menangis, “ Aku juga sungguh
menyukaimu Vey , Kau harus bertahan”. Vey tersenyum sambil menutup matanya.
“
Hei Raniiii….”. Aku tersentak…Oh Tuhaaaaan ternyata Paman membangunkanku. “
Dari tadi aku mencarimu ternyata kau ketiduran di sini saking asyiknya melukis
di tengah indahnya Pantai. Aku langsung sadar, ternyata itu adalah mimpi dari
tadi aku tertidur lelap tapi itu seperti nyata, lalu kudapati tanganku
menggenggam sapu tangan. Yah ini tadi sapu tangan Vey yang di berikan padaku,
lalu ku periksa leherku yah ada kalung yang juga Vey berikan padaku. Aku
bingung tadi itu mimpi atau kenyataan sih ? Tapi aku juga menangis, air mataku
masi membasahi pipiku.Lalu Paman bertanya “ Ada apa kenapa seperti kebingungan
? “ “ Vey paman, Vivaldy “. “ Kau ini gila atau apa ?” “ Vey yang tampan itu paman “ Lalu aku mengambil kanvasku,
seketika aku kaget yang terlukis saat aku melamun hingga tertidur tadi adalah
wajah Vey, yang sangat mirip dengan sosok Pria di mimpiku tadi. “ Ini dia
gambarnya paman, wajahnya mirip dengan lukisan ini, Vey namanya dia terkena
kanker Leukimia, dia sakit parah Paman “ Aku menangis dan berteriak memanggil
Vey, ini sperti nyata bagiku namun Vey tidak ada. Paman agaknya menegerti “
Yang kau cari adalah Vivaldy kan ? Anak
muda yang broken home dan tinggal dibalik hotel itu ? yang ibunya menikah lagi
? “ Paman lalu mengantarku ke rumah Vey, seketika ku lihat semua lukisan –
lukisan Vey. Ayahnya lalu bercerita kalau Vey telah meninggal sebulan yang
lalu. Namun Vey meninggal bukan karena Penyakitnya, dia bunuh diri di Pantai
Napabale itu, karena sudah tidak tahan dengan penyakit yang menyiksanya. Vey
pernah menyukai seorang gadis dan gadis itu sangat mirip denganku terlihat
dengan lukisan besar dikamarnya. Vey bilang gadis itu adalah gadis impiannya.
Aku juga melihat kalung yang ku pakai sangat mirip dengan kalung di kamar Vey,
ternyata kalung itu adalah kalung pasangan. Keesokan harinya aku langsung balik
ke kampungku, aku tidak pernah bisa melupakan kejadian kemarin, kejadian yang
seperti melukis mimpi nyata di pantai Napabale.
Vey….I am always here,wait
the miracle to meet you in the real world.
I Love You so much…
“ Vivaldy & Maharani “