Minggu, 30 Juni 2013

Puisi Rindu

Sesimpul Senyum dalam Balutan Rindu


Ku rebahkan gelisah di sepertiga malam yang indah
Rentetan memori menyelipkan namamu dalam khayalku
Beralun lembut  dalam kepatuhan
Seperti irama sang maestro memecah pada heningnya ruang

Ku coba tak menyepi…
Kala derai rindu mencoba bersenda gurau pada angan yang tinggi
Auramu menari dalam imajiku…
Mencoba  bertahan sejenak dalam jejak janji yang pernah kita retas bersama
Sajak – sajak rindu yang kian menumpuk…
ku titipkan bersama guyonan angin malam ini..

Aku bukanlah air mata yang pernah terbuang…
Aku adalah senyum…
Sesimpul senyum yang hanya akan mengingatmu…
Betapa aku mendambamu dalam kerinduan….
Balutan rindu yang mengantarku bangun pada waktu fajar dengan hati yang lega.

‘Aspuri Azizah’
01:44 a.m
1 Juli 2013


Jumat, 28 Juni 2013

DIAM

Kepada mereka yang selalu berkata bahwa “Diam itu adalah Emas” namun sampai saat ini masih kucari dimana emas itu berada kala aku hadir untuk menorehkan namaku sebagai salah satu pemegang prinsipnya. Dikala aku menjadi ada dalam ketidaktahuanku mencari definisinya, berulah untuk mengabadikan diriku dalam kepura – puraan yang tak sengaja ku dapati wujudnya dalam satu kondisi yang muskil untuk dikatakan bahwa ini adalah kebetulan. Bacalah ini dan semoga dikau paham maksudku, dan mari kita pahami bersama…!

DIAM…
Diam memang hanyalah sebuah sikap. Diam tak mampu menerobos nurani seseorang untuk menjadi seperti apa yang kau pinta. Diam juga takkan mampu melampiaskan segenap kemarahan yang ingin kau tumpahkan. Diam takkan berbohong untuk berdusta. Diam takkan mengartikan yang tak bermakna. Diam takkan marah meski berkali – kali kau khianati. Jangan kau anggap bahwa diam berarti berhenti berbicara.
 Karena diam tidak pernah bercermin pada bongkahan kaca yang buram. Diam bukanlah kemarahan, dimana dewi kemarahan selalu bersanding dengan emosi yang meluap – luap, egoisme tingkat tinggi, dan selalu ingin merasa benar. Diam bukanlah penolakan yang tak terbantahkan. Diam sungguh sangat sederhana. Diam belum sanggup membuat orang yang kau harapkan untuk segera peka akan halmu. Diam hanya bisa tersenyum ramah ketika yang lain menjadi marah. Diam selalu menerima, dikala yang lain mengabaikanmu. Diam itu peduli, dikala mereka begitu antipati. Diam hanya bisa terjaga, tatkala yang lain menjadi lalai. Diam selalu mengelus dada, karena diam tak ingin menjadi kalang kabut. Diam itu menjadi gagap dihadapan mereka dan begitu fasih di hadapan sang MAHA. Jangan kau cari DIAM dihadapan para pengecut yang selalu menjadikan retorika sebagai amunisi sejati. Karena DIAM hanya ada dihati orang – orang ikhlas, yang mengandalkan Allah sebagai pendengar sejati. Diam takkan pernah ada dihati orang – orang sombong, dan hadir dibualan orang – orang pecundang. Diam tinggal dalam nurani yang meyakini bahwa sesungguhnya kebenaranlah yang akan menunjukkan siapa yang benar. Diam berkarib akrab dengan mereka yang percaya bahwa “Tuhanku, Tuhanmu, Tuhannya, dan Tuhan kita semua adalah dzat yang ESA adanya.”

Ditempat pembaringan kala kantuk melanda
Juni menuju Juli


“Ratna Sari Devi”

Yesterday was You are

Yesterday was You are

Aku hidup ketika kau merasa bahwa kehidupan telah bersamamu..
Surya kemarin telah mencoreng namamu di pesakitan…
Tapi aku hadir ketika kau merasa keberadaanku bagai selembar ilalang diujung kemarau…
Dunia kini begitu ramai ketika kau kukuh bertahan digubuk mewahmu..
Aku menerima dan kau menolak
Aku lupa bahwa kau memang sudah terabaikan…
Gerimis senja menolak untuk bernyanyi lagi….
Dan kau bungkam bersama janji – janji kepalsuan…
Dan aku diam dalam pekatnya harapan menuju fajar..
Pita suaraku terasa keluh untuk menyebut namamu lagi…
Mungkin jenuh menyaksikan aneka fitnah yang meracuni kebenaran…
Layar retorika pun tak sanggup menjelma menjadi  malaikat ketika torehan kebejatan tak mampu diasingkan..
Selaput kecut hanyut bersama sajak-sajak hitam pada badai malam itu…
Yang kian tabah menanti pembalasan…
Dan aku telah lupa perihal kemarin…
Karena kau adalah kemarin…

Yang hanya menjadi buih dilautan…

Rabu, 26 Juni 2013


Good Morning, GOD

Good morning, God.
Today is Yours, not mine,
to know what I'm heading toward.
Will it end in regrets or turn out fine?
You hung the glowing moon last night.
You pulled down the shade, gave darkness and rest.
You pulled up the shade, in streamed light.
Another day, will I give You my best?
If I close myself to Your inner voice,
my feet may stray, I may miss Your path.
If I tread alone and make a poor choice,
my eyes may not see what for me, You hath.
With compassion my stubborn heart fill.
Don't let me ring empty and hollow.
Help me surrender my all to Your will,
today and each one that may follow.
When this day is done and resting time is mine,
may Your guiding hand, have kept from regrets,
so it turns out fine.
Good morning, God.

copyright@Janet Gladys Gosney

Poem about Life

Life's Choices
Life is full of choices
Make sure you pick the right one
Don't listen to the voices
Hear only yours and you have won

Many people will tell you
You need to change your looks
Don't take to heart their view
Fabulous bods are found only in books

There is only one voice
That you should listen to
It will help make the right choice
That is perfect just for you

Your looks are your own
Someone will always love you
You will never be alone
Look in the mirror and you'll see who

Minggu, 23 Juni 2013

Pertemuan Yang Menggetarkan

Panggil Aku Za’…!
Hiruk pikuk suasana kelas tiba – tiba menyepi “Selamat pagi semuaaaaa … “ seluruh pasang mata tiba – tiba tertegun. “Perkenalkan saya Mirza Aditya asisten dosen disini, kebetulan hari ini pak Amri berhalangan hadir jadi saya menggantikan beliau,  panggil saya kak Za’ “
Za’ itu namanya, entah mengapa rasanya aku pernah bertemu dengan pria ini, tapi dimana ? Wajahnya tidak asing bagiku. Dia amat sangat tampan, badannya yang tegap, dan suaranya tegas sebagai lambang bahwa dia mampu melindungi wanita. Senyumannya seperti mampu meruntuhkan pintu  hatiku yang selama ini ku tutup rapat setelah kesakitan 2 tahun yang lalu. Sebuah pengkhianatan dari seorang pria yang akhirnya mengurungkan niatku untuk menjalin hubungan lagi. Hubungan dimana anak remaja masa kini mengemasnya dalam bentuk kata “PACARAN”. Bagiku cinta lelaki itu ibarat nasi yang telah diendapkan  berhari – hari “BASI”. Namun semuanya seakan melebur dengan kehadiran kak Za’. Ketampanannya menjadi topik pembahasan seluruh mahasiswi dikelas yang membuat para lelaki cemburu. Seakan tak ada lagi tempat dihati mereka selain Za’. Seantero sudut kampus berceloteh hangat tentang parasnya yang muskil untuk dikatakan biasa. “ Siapa yah gadis yang beruntung menjadi pacar kak Za’ ?” sekelumit pertanyaan mampu menyulap sikap seluruh mahasiswi dikelasku. Mereka kini berlomba mendapatkan perhatian sang ASDOS tampan  itu, bahkan setiap kali pertemuan di kelas beberapa mahasiswi yang jarang mengacungkan tangan justru menjadi ramah bertanya. Mereka amat sangat bersemangat ketika kak Za’ mulai menjelaskan materi. Satu hal lagi yang menjadi penyulut kegirangan mereka bahwa sang ASDOS tampan itu belum punya pacar.
Yah belum punya pacar “tapi apa kak Za’ mau melirikku ? aku yang hanya gadis biasa, yang berpakaian ala apa adanya, bahkan seluruh peralatan wanita sebagai simbol feminisme sudah ku singkirkan dari hidupku dua tahun  yang lalu. Aku hanya ingin fokus pada prestasiku.
Dalam setiap pertemuan dikelas kak Za’ hampir bersikap biasa saja pada seluruh mahasiswi, hanya mereka saja yang terkadang ke Ge_eR_an.
Sore hari di balkon kamarku, ketika matahari mulai bergerak keperaduannya. wajah sang ASDOS terbenam  dalam  memoriku, tatanan rambutnya yang begitu apik, hidungnya yang mirip dengan aktor film India, garis wajahnya yang menunjukkan bahwa dia bukan orang nusantara asli, yang belakangan aku ketahui  bahwa dia hampir 8 tahun tinggal di Eropa menyelesaikkan studinya dalam Ilmu manajemen. Pantas saja kalau  parasnya tidak mencerminkan wajah Indo kebanyakan. Senyumannya yang begitu khas.  Pesonanya mampu membangkitkan partikel – partikel cinta  yang menusuk sukmaku. Kak Za’ tidak hanya tampan tapi juga cerdas. Dan…… tiba – tiba handphoneku berdering pertanda sms masuk,

“ Nilai tugasmu bagus, Excellent!
By K’ Za”

Ku baca berulang - ulang pesan singkat itu, berusaha meyakinkan diriku bahwa aku tidak sedang bermimpi. Ya ini nomor Kak Za’ yang aku save waktu pertemuan pertama ketika dia memperkenalkan dirinya dikelas.
****

Rentetan kisah berjalan seiring waktu yang kukuh membuka lebar ruang keakraban antara aku dan sang ASDOS. Sesekali kami hang out bersama diakhir pekan secara sembunyi – sembunyi agar teman – teman sekelas tidak mengetahuinya. Pernah di suatu waktu kami jalan berdua ke toko buku dan berpapasan bersama Leli dan Rika, teman sekalasku,. Aku hampir gusar mencari alasan yang tepat untuk meyembunyikan kedekatan kami. Untungnya kak Za’ bisa mencari alasan jitu yang membuat mereka percaya.
****
Seorang laki-laki yang mampu membuat awan gelap dalam hidupku lenyap, dan merubahnya menjadi pelangi yang indah. Seorang lelaki yang selalu memberikan kenyamanan bagiku, dia sangat paham bagaimana cara memperlakukan wanita, dia begitu menghargaiku. Pernah disuatu waktu kak Za’ menolongku saat aku hampir keserempet mobil dipenyeberangan. Inilah momen yang membuat dadaku bergerilya setengah mati saat berada dipelukannya.
****
 08.15 p.m di kafe Mentari, aku dan kak Za’ duduk dmeja no.5. Pertemuan yang menggetarkan bias – bias rindu itu kini terpercik dalam hatiku. Matanya benar-benar menghipnotisku dan membawaku masuk ke dalam dimensinya. Dimensi yang sebenarnya sudah lama aku nantikan, dimensi dimana tak ada beban sedikitpun, yang ada hanya bahagia, tawa, dan ceria. “kak Za’, aku benar-benar menyukaimu, tidak, bukan hanya suka, aku mencintaimu, sangat mencintaimu”, ucapku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri melihatnya yang sedang asyik bercerita tentang pengalaman pertamanya hidup di Eropa. “ Ayunda ”, suara pelan yang membuatku terpanah….. bibirku terkatup tak tahu harus menjawab apa. Kak Za’ melanjutkan ceritanya “ Nda, bukannya kk gak mencintaimu. Sungguh aku sangat mencintaimu.” Kak Za’ berbicara sambil mengeluarkan selembar foto dari sakunya. Foto Wanita dan lelaki yang memakai seragam putih abu – abu dan kelihatannya mereka begitu akrab. Ku cermati sekali lagi foto itu. Wajah wanita itu sangat mirip denganku, ya dia Anindya yang tak lain adalah  kakakku, dan lelaki itu adalah orang yang  kini ada dihadapanku. “aku mendambamu hanya sebagai adik Nda”. Pijakan ekspektasiku runtuh bagai diterjang angin tornado super dari segala penjuru, terlebih lagi foto itu, ternyata kak Za’ adalah pacar kakakku. Almarhumah kak Nindya yang meninggal 5 tahun yang lalu, karena kecelakaan mobil bersama pacarnya yang tak lain adalah Mirza Aditya. Kak Nindya sempat koma 2 bulan sebelum akhirnya meninggal dunia. Orang tuaku amat membenci lelaki ini, dia pergi dengan tidak bertanggung jawab 5 tahun yang lalu. Saat kak Nindya sedang kritis dia malah mengasingkan diri ke luar negeri. Mataku nanar, butiran – butiran air mata jatuh dari pelipisku tanpa permisi. Aku seperti tak percaya, aku sempat melihat foto mereka sekitar 6 tahun yang lalu. Dulu aku hidup bersama Oma di kampung.
“ Aku mendekatimu  hanya untuk membalas rasa bersalahku 5 tahun yang lalu saat aku tak bisa lagi bertemu Nindya, aku diasingkan ke Eropa oleh pamanku yang tak lain adalah pak Amri, tidak ada pilihan lain bagiku karena aku kesana juga dalam kondisi koma. Aku minta maaf dik,,,,
“ Apa maaf ? setelah kau buat kakakku menderita dan kau datang lagi sebagai orang yang baru dikehidupanku. Kau buat semuanya berantakkan  pada akhirnya. Apa – apaan ini ? Kau paksa aku menikam saudaraku sendiri dengan skenariomu. Kau JAHAT Za’… Pergi kamu dari sini!” seketika respekku pada lelaki ini hilang. Aku berlari keluar dari kafe itu,dan menyetop sebuah taksi. Ku cerca diriku habis – habisan karena selama  ini aku terlambat menyadarinya. Logikaku hilang tenggelam bersamaan dengan hadirnya pesona kak Za’.
****
4 hari berlalu dengan kegalauan  tiada tara, ku putuskan untuk segera masuk kampus hari ini setelah absen dengan alasan sakit. Persaanku telah ku rajut seperti semula, tidak ada lagi bekas sedih yang terlukis di wajahku. Kembali ku kuatkan  hatiku untuk memulai semuanya dari awal. Kemarin aku dengar dari Rika kalau kak Za’ akan menikah dengan seorang gadis, gadis yang ternyata teman sekelasnya waktu di Eropa dulu. Sudahlah, aku tak mau pusing memikirkannya. Cinta sejati itu tidak hadir untuk saling menyakiti. Aku membiarkan masa lalu pergi untuk mempersilahkan yang terbaik datang di masa depanku.

Dear my past time : Thanks for all the lessons
Dear my future : I am Ready

“Di tempat peraduanku merajut Asa”
Kota Daeng 23 Juni 2013
Malam di penghujung bulan Shaban

Senin, 17 Juni 2013

Kebersamaan terakhir


THE LAST RIDE TOGETHER
by: Robert Browning (1812-1889)
     SAID--Then, dearest, since 'tis so,
    Since now at length my fate I know,
    Since nothing all my love avails,
    Since all, my life seem'd meant for, fails,
    Since this was written and needs must be--
    My whole heart rises up to bless
    Your name in pride and thankfulness!
    Take back the hope you gave,--I claim
    Only a memory of the same,
    --And this beside, if you will not blame;
    Your leave for one more last ride with me.
     
    My mistress bent that brow of hers,
    Those deep dark eyes where pride demurs
    When pity would be softening through,
    Fix'd me a breathing-while or two
    With life or death in the balance: right!
    The blood replenish'd me again;
    My last thought was at least not vain:
    I and my mistress, side by side
    Shall be together, breathe and ride,
    So, one day more am I deified.
    Who knows but the world may end to-night?
     
    Hush! if you saw some western cloud
    All billowy-bosom'd, over-bow'd
    By many benedictions--sun's
    And moon's and evening-star's at once--
    And so, you, looking and loving best,
    Conscious grew, your passion drew
    Cloud, sunset, moonrise, star-shine too,
    Down on you, near and yet more near,
    Till flesh must fade for heaven was here!--
    Thus leant she and linger'd--joy and fear!
    Thus lay she a moment on my breast.
     
    Then we began to ride. My soul
    Smooth'd itself out, a long-cramp'd scroll
    Freshening and fluttering in the wind.
    Past hopes already lay behind.
    What need to strive with a life awry?
    Had I said that, had I done this,
    So might I gain, so might I miss.
    Might she have loved me? just as well
    She might have hated, who can tell!
    Where had I been now if the worst befell?
    And here we are riding, she and I.
     
    Fail I alone, in words and deeds?
    Why, all men strive and who succeeds?
    We rode; it seem'd my spirit flew,
    Saw other regions, cities new,
    As the world rush'd by on either side.
    I thought,--All labour, yet no less
    Bear up beneath their unsuccess.
    Look at the end of work, contrast
    The petty done, the undone vast,
    This present of theirs with the hopeful past!
    I hoped she would love me; here we ride.
     
    What hand and brain went ever pair'd?
    What heart alike conceived and dared?
    What act proved all its thought had been?
    What will but felt the fleshly screen?
    We ride and I see her bosom heave.
    There's many a crown for who can reach.
    Ten lines, a statesman's life in each!
    The flag stuck on a heap of bones,
    A soldier's doing! what atones?
    They scratch his name on the Abbey-stones.
    My riding is better, by their leave.
     
    What does it all mean, poet? Well,
    Your brains beat into rhythm, you tell
    What we felt only; you express'd
    You hold things beautiful the best,
    And pace them in rhyme so, side by side.
    'Tis something, nay 'tis much: but then,
    Have you yourself what's best for men?
    Are you--poor, sick, old ere your time--
    Nearer one whit your own sublime
    Than we who never have turn'd a rhyme?
    Sing, riding's a joy! For me, I ride.
     
    And you, great sculptor--so, you gave
    A score of years to Art, her slave,
    And that's your Venus, whence we turn
    To yonder girl that fords the burn!
    You acquiesce, and shall I repine?
    What, man of music, you grown gray
    With notes and nothing else to say,
    Is this your sole praise from a friend?--
    'Greatly his opera's strains intend,
    But in music we know how fashions end!'
    I gave my youth: but we ride, in fine.
     
    Who knows what's fit for us? Had fate
    Proposed bliss here should sublimate
    My being--had I sign'd the bond--
    Still one must lead some life beyond,
    Have a bliss to die with, dim-descried.
    This foot once planted on the goal,
    This glory-garland round my soul,
    Could I descry such? Try and test!
    I sink back shuddering from the quest.
    Earth being so good, would heaven seem best?
    Now, heaven and she are beyond this ride.
     
    And yet--she has not spoke so long!
    What if heaven be that, fair and strong
    At life's best, with our eyes upturn'd
    Whither life's flower is first discern'd,
    We, fix'd so, ever should so abide?
    What if we still ride on, we two
    With life for ever old yet new,
    Changed not in kind but in degree,
    The instant made eternity,--
    And heaven just prove that I and she
    Ride, ride together, for ever ride?


http://www.buzzle.com/articles/basic-elements-of-poetry.html

Minggu, 16 Juni 2013

Memorial Pic


Ini foto waktu di rektorat kampus : Ane lg jadi panitia "Worksop_International" keren kannn ?


Sebenarnya ni sesi foto buat peserta tapi Ane nyuri2 wktu biar bisa masuk jg digambar hehe | Sama tuhhh sama temen ane disebelah yg pke almamater hijau harusnya dia ga' msuk gambar tuhhh huuuhh "heyyy Go Out man"! wkwkwkwkwk


Manis2 pisan euy...!!!!


Ane yg pke dresss PINK cantikkkk yahhhhh....bareng ma KK Upie & Temenx yg gokillll....!!!


Ni di Trans Studio Makassar...pd tw kan ?? Ane lg berpose ala model gituuuuuuu


Msh dit4 yg samaa guyzzz ni di bagian komedi putar.... viewx gloryiiiii.....




Ni ditake diam2 ma kameraman jd ga siap gituuuuu dehhhhh : ane lg nge-MC Seminar by Liz England... lg dengerin Materix


Sesi foto for Panitia.....!!!!





Ni foto gila2an nihhh guyssss wkt di kos'an ane...teman2 ane lg pada ngegeledah kamarrrrr ane GUBRAAAAKKKKK !!!! Yg pake kacamat tuh namax "Anthye tp lebih suka dipanggil Khanza" katax dy ga PEDE ma namax wkwk, dia nih paling ga' mw di make up makax kita paksain ....hehe




Hmmmmm dalam rangka mengekspresikan kebosanan kita nggu DOSEN yg udh hmpir senja...maka kita berinisiatif utk foto2 dari kiri ke kanan perkenalkan Khiky yg sok Imuuuuutttt, Whiewi yg lg ngelirik cicak jatohhh ditembokkkk, dan Ane "Devi" yg bingung nyari gaya dan Anthye yang senyumm2 alay haha Sweet Moment !



Disamping ane tuhhh kk Senior ane... Kk Hilmi namax "Ala The Virgin"


Kalo ini foto ditake last minute sebelum ane balik, mumpung kameramannya teman aneeee...jd gue maksa buat difotoinnnn heheh2

Rangkuman Materi Teknologi Pembelajaran


Media pembelajaran merupakan salah faktor penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Hal tersebut disebabkan adanya perkembangan teknologi dalam bidang  pendidikan yang menuntut efisiensi dan efektivitas dalam pembelajaran. Untuk mencapai tingkat efisiensi dan efektivitas yang optimal, salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi bahkan jika perlu menghilangkan dominasi sistem penyampaian pelajaran yang bersifat verbalistik dengan cara menggunakan media pembelajaran. (untuk melanjutkan membaca silahkan klik link di bawah ini) :

My main link  https://drive.google.com/#my-drive

https://docs.google.com/file/d/0B8gPN14cA9IQODY1dzB1SXBPSW8/edit?usp=sharing

https://docs.google.com/file/d/0B8gPN14cA9IQSFhfUXA3OWNWWVk/edit

https://docs.google.com/file/d/0B8gPN14cA9IQZGZQV1lOV181bnM/edit

https://docs.google.com/file/d/0B8gPN14cA9IQMHFUdlFZdHh4Snc/edit

Jumat, 14 Juni 2013

Lentera kedua

Tua Adalah Pasti Tapi Dewasa Adalah Pilihan

"Emang kedewasaan seseorang itu gak bisa diukur dari umur, tapi dari pemikiran dan sikap" itulah status twitter salah satu followers saya. ok sekarang kita bahas tentang kedewasaan, perlu digarisbawahi, semua yg saya tulis tidak menutup kemungkinan sang penulis juga masih tidak dewasa. dan kita (anak muda) sedang menuju ke proses dewasa tersebut.

"Tua adalah pasti tapi Dewasa adalah pilihan". Ya menjadi dewasa adalah pilihan yang musti kita ambil dalam menjalani hidup ini, kerena dengannya kehidupan ini menjadi lebih terwarnai dan lebih 'berasa'. jikalau saja kedewasaan tidak ada tak bisa dibayangkan bagaimana keadaan dunia ini, mungkin sebentar-bentar perang, sebentar-bentar ngambek, atau sebentar-bentar angot-angotan menjalankan aktivitasnya. Maka dari itu tulisan ini ada, yuk sama-sama manakar tingkat kedewasaan kita.

Untuk mengukur tingkat kedewasaan kita, kita bisa melihat dari beberapa hal berikut ini, mungkin dan pasti tidak komplit, tàpi akan membantu kita memudahkan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat kedewasaan kita.
Sikap, Berikut ini adalah sikap-sikap yang menunjukkan kedewasaan seseorang, sopan, menghargai dan menghormati orang lain, tidak memandang rendah orang lain, ada kepedulian sosial, selalu mengutamakan dialog dalam menyelesaikan persoalan dan beberapa sikap positif lainnya, prinsipnya, semakin tinggi tingkat positifitas sikap kita, maka semakin tinggi tingkat kedewasaan kita.
Diam aktif, Kemampuan diri dalam berkomentar. orang yang memiliki kedewasaan dapat dilihat dari sikap dan kemampuannya dalam mengendalikan lisannya. Seorang anak kecil pasti apa yang ia lihat ia komentari baik itu baik atau buruk. Tetapi orang yang dewasa ia bisa mengendalikan lisannya dalam mengomentari sesuatu, singkatnya difikirkan (bertafakkur) dahulu sebelum mengomentari, apakah bermanfaat, apakah menyakiti ataukah tidak.
Sifat lain sekali dengan sikap, sikap bisa kita pelajari, tapi sifat, susah untuk di ubah, hanya jika kita bisa mencapai alam pikir yang dewasa kita bisa mengubah sifat kita, namun demikian, bimbingan rohani dan pengetahuan akan banyak membantu kita mengendalikan sifat kita, berikut ini sedikit contoh sifat yang menunjukkan kedewasaan pola pikir seorang manusia, tidak egois, sabar, penuh pengertian, menyenangkan, ramah, bijak, jujur tentu saja, dan beberapa sifat negatif lainnya.
Cara Bicara
Cara bicara yang teratur, terarah, tertata menujukkan kedewasaan seseorang, tapi TIDAK MUTLAK, karena banyak salesman yang bicaranya minta ampun bagusnya tapi kelakuan dan sikapnya jauh dari apa yang di katakannya, isi dan topik pembicaraan lebih tepat di jadikan ukuran, dan bagaimana cara penyampaiannya. Dalam dunia militer orang akan lebih cepat mencapai tingkat kedewasaan itu, terutama dalam pendidikan Perwira.
Konsekwensi
Hal terakhir ini kunci utama mengukur tingkat kedewasaan seorang manusia, manusia dewasa selalu bertanggung jawab dengan apa yang di katakan dan di perbuatnya, baik atau buruk, bahkan meski nyawa taruhannya. Sikap pengecut dan suka melarikan diri dari persoalan menunjukkan rendahnya tingkat kehidupan manusia, atau bisa dikatakan tidak gentle. Selebihnya, Anda harus mencari tahu sendiri, karena saya juga harus melihat diri sendiri untuk mencari tahu apakah saya sudah 'cukup' dewasa untuk mengatakan hal ini.
Empati, Dapat meraba atau merasakan perasaan orang lain. Seorang anak kecil yang sedang bermain mainan miliknya lalu datang anak kecil yang lain dengan sendirinya ia akan menghindar agar mainannya tidak juga dimainkan oleh kawannya tersebut. seorang yang dapat ber empati InsyaAllah akan semakin bijak. Tidak akan bijaksana orang yang hanya memikiran perasaan dirinya sendiri.
Wara' dalam bertindak, Orang yang dewasa benar-benar berhitung tidak sembarangan memilih kata, mengambil keputusan, dan mengambil sikap. karena orang yang tidak dewasa cenderung untuk bersikap ceroboh. The last but not the least.
Sabar, Dalam situasi sesulit apapun lebih tenang, mantap dan stabil. Sahabat seseorang yang dewasa benar - benar memiliki sikap yang amanah, memiliki kemampuan untuk bertanggungjawab. Karena sabar juga dalam mengemban amanah jika ia tidak sabar dalam amanah, maka dengan sendirinya ia tidak bertanggungjawab.


Oscar Oasis - Ilustrasi Saja

“Dewasa” sebuah kata sederhana tapi sarat makna. Kata yang mampu menyejukkan hati pendengarnya, mampu membuat mata betah berlama-lama terpaut pada penyandangnya. Dewasa selalu diidamkan oleh khalayak, terutama anak-anak. Apakah Anda termasuk salah satu orang yang mengidamkan kedewasaan? Jawaban Anda atas pertanyaan tersebut bisa dijadikan salah satu indikator tingkat kedewasaan Anda.

Sampai saat ini, belum ditemukan standar baku kapan dan dalam usia berapa seseorang akan mencapai kedewasaan karena belum ada ukuran tunggal untuk menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Meskipun demikian, aspek-aspek berikut dapat dijadikan faktor penentu sementara untuk mengukur tingkat kedewasaan seseorang, di antaranya perasaan, sikap, cara pandang, orientasi, usia (hal ini menyangkut aspek jasadiah) dan perilaku. Oleh karena itu, secara umum kedewasaan dapat dilihat dari bebrapa aspek, di antaranya:
Dewasa secara fisik, indikatornya adalah ketika organ-organ reproduksi telah telah berfungsi secara optimal, atau secara singkat ketika seseorang telah mencapai baligh.
Dewasa secara psikologis, indikatornya adalah adanya kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan.
Dewasa secara sosial-ekonomi, yang ditampakkan dengan kemampuan seseorang untuk mandiri, mampu membiayai kebutuhan hidup sendiri dan menangani berbagai hal dengan kemampuan sendiri.

Indikator Tidak Dewasa
Selain mengetahui indikator kedewasaan, maka perlu pula diketahui beberapa indikator ketidakdewasaan, di antaranya:
Emosional. Salah satu hal yang membedakan orang dewasa dengan anak-anak adalah dalam berprilaku. Anak-anak mengalami proses merasakan, bertindak, kemudian akhirnya merasakan. Sementara orang dewasa, ia akan berpikir terlebih dahulu, bertindak, kemudian baru akhirnya ia akan merasakan. Artinya, orang yang dewasa akan bersikap tenang, penuh pertimbangan dalam mengambil setiap keputusan, ia tidak akan terjebak oleh emosi, perasaan dan pengaruh lingkungan semata. Tidak akan ditemukan orang dewasa yang emosinya meledak-ledak tanpa terkontrol. Bagaimana dengan Anda?
Egois. Egois merupakan ciri dari seseorang yang belum dewasa. Setiap orang memiliki ego, namun orang yang belum dewasa sering melampaui egonya sehingga menjadi egois, tentu saja ia tidak menyadari bahwa dirinya egois. Semakin egois seseorang, semakin jauh ia dari pencapaian kedewasaan.
Tidak konsisten. Dasar dari seseorang yang dewasa adalah konsisten. Sikap sebaliknya adalah indikator seseorang belum dewasa, artinya ketika seseorang mudah terpengaruh oleh hal-hal baru yang merusak komitmen sebelumnya, maka orang tersebut belum dapat digolongkan ke dalam orang yang dewasa.
Tidak tepat janji. Kedewasaan seseorang juga dapat diukur dari perkataannya. Bila perkataannya dapat dipegang dan dipercaya, maka kedewasaannya teruji. Akan tetapi jika perkataan yang dikeluarkannya hanya sekedar kata tanpa bukti nyata, bahkan dengan mudah ia ingkari maka itu merupakan ciri ketidakdewasaan seseorang.
Tidak bertanggungjawab. Sebagai hamba, manusia dituntut untuk bertanggungjawab atas apa-apa yang dilakukannya, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Rasa tanggung jawab ini hanya ada dalam pikiran orang dewasa. Ketika didapati ada orang yang bingung dengan tanggungjawabnya dan sering mencari kambing hitam untuk melimpahkan tanggung jawab ini, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan telah dewasa.
Suka bersembunyi. Setiap manusia tentu akan akan dihadapkan pada masalah dalam hidupnya, masalah-masalah yang datang tersebut tidak jarang akan muncul dalam bentuk yang sangat sulit, sehingga mencapai tahap yang sangat kritis. Pada saat kritis, saat itu pulalah kedewasaan seseorang diuji. Orang yang belum dewasa akan memilih lari dari masalah tersebut dan bersembunyi, sementara orang yang dewasa akan mengahadapi masalah tersebut seberat apapun ia merasakannya.
Hanya merespon ketika ada paksaan. Orang yang belum dewasa adalah orang yang merespon hanya ketika ada paksaan atau tekanan. Ketika ia mendapatkan seruan yang sifatnya ajakan saja, jarang ia akan meresponnya. Ia akan merespon ketika ada imbalan yang akan diberikan kepadanya, baik itu berupa hadiah jika merespon atau sanksi jika tidak melaksanakannya.

Tunggu apa lagi? Mari kita berlomba-lomba menjadi sosok yang benar-benar dewasa!
“Tua adalah sebuah kepastian, sedangkan dewasa adalah pilihan” (Anonim)

Di manakah Anda akan memposisikan diri? Apakah beranjak semakin tua dengan kedewasaan yang makin meningkat, atau beranjak semakin tua tanpa diiringi kedewasaan? Tentukan pilihanmu sekarang! Wallahu’alam bishawab

Sumber dari berbagai hal (disini) (disini) (disini) (disini)

Lentera pertama

Antara Aku dan Egomu

Seperti ini kah kita memandang kedewasaan ?
Seperti ini kah yang kita katakan bertanggung jawab ?
Setelah bualan kata itu terucap dengan fasihnya…
Aku tergelak menahan tawa…
Menyaksikan ego dibalik rasa antipatimu…
Sungguh sangat mengagumkan…
MerASA percaya dengan seluruh rangkaian kata yang menjebakku…
Dalam kebimbangan yang patah arah…
Tahukah bahwa sema sekali aku tak brmaksud menemukanmu…
Cukup duduklah dengan Tenang…
Jalankan egomu sebaik mungkin yang kau bisa…
Abaikan jika kau ingin menolak
Lupakan jika kau anggap hal ini sia –sia…..
Tapi satu yang perlu kau pahami,
Jangan pernah mendustai bahkan lari dari kemuna’anmu
KARENA sifatmu itu hanya akan berpura – pura mendustai dirimu  yang telah CACAT untukkQ….
Yang telah nista disukmaQ
Yang telah lebur  ke dalam butir-butir kata dan tulisan
Sehingga kini kusegel asaku akan halmu.

Rabu, 12 Juni 2013

Are U my Friend ?

ARE YOU MY FRIEND?
By James Brinkworth

Will you be there when I’m down,
And catch me when I fall?
Will you hold me when I need
To feel the warmth of your touch?

Will you laugh when I laugh,
And cry when I cry?
Will you let me rant and rave,
When I need to let off steam?

Will you discuss those painful things,
That you’d rather not think about?
Like the times we’ve hurt each other,
And promised would never do so again?

Will you say the right thing,
When all I’ve heard is the wrong?
And tell me soothing words,
That make the pain I feel subside?

Will you understand me when I say,
“I can’t see you now, go away”?
Will you come back when I call,
As if nothing happened at all?

If you’ll do these things for me,
And keep smiling all the way.
If you’ll be with me through the bad times,
As well as the good.

Then truly you are my friend,
My pal, my mate and my confidante.
And that means so much to me.
I thank you dearly, for being there,

You, My Friend.

YOU

You'll Cry For Me Someday

Someday you'll cry for me, like I cried for you,
Someday you'll miss me, like I missed you,
Someday you'll need me, like I needed you,
Someday you'll love me, but I won't love you.
                                                                                                                                             


Love Poem

With Love to You

With love to you... wherever you are.
My heart doth send to thee.
Rivers wide and mountains tall
Separate you from me.

Looking at pictures of you and I
Seems to bring you close.
But hearing our song being played
Brings you near the most.

I remember us dancing to that tune,
Under the shade of a tree.
That day in the park together,
Our spirits running wild and free.

Whenever I feel gloomy,
I think of you and can't help but smile.
Though it doesn't last forever,

At least it lasts for a while.

Selasa, 11 Juni 2013

Album Hitam

DETAK KEMATIAN

Gelap menghampiri, sayup - sayup gerimis ditengah malam terdengar. Percikkanya seolah mencacahkan denyut nadi. Q tarik nafas panjang mencoba menemukan detik kedamaian di kalbu. Entah mengapa malam ini amat susah rasanya ku katupkan kedua mataQ. Berhentilah mengganggu, ini hanya akan membuang waktu. Hahhhhhhh lamunanku buyarrrr.... KEMATIAN ! Itulah yang kini menyelinap dalam fikirku. Anganku menjadi fakir karenanya. Pantaskah hamba berfikir sejauh ini ?  Tapi kedatangannya takkan ada yang bisa menolak. Bukankah dunia ini hanyalah sebuah perjalanan menuju kematian belaka ? Lalu mengapa hamba seakan masih begitu cinta dengan dunia ini ?. Terlalu banyak dosa, yang kadang sudah ku anggap biasa untuk Q lakoni.  Lalu apa yang Q pahami tentang ini ?
Segalanya berakhir dengan pasti ketika dia menghampiri….
Bahkan ketika berteriak atas ketidaksiapan diriku, halnya akan datang ketika waktu itu telah di gaungkan dengan lantangnya.
Air matapun akan gugur, ketika yang ada menjadi meniada, ketika raga dan ruh tak lagi bersatu, ketika ketakjuban terakhir berada dalam penempuhan yang abadi.
Takkan ada yang lebih pantas terfikirkan selain AMAL dan DOSA. Dimanakah kecenderunganmu antara keduanya ? Malaikat akan tetap datang menghalau dalam kefanaan DUNIA.

DAN SEGALANYA BERAKhIR  ketika kebebasanku terjerat  dalam  dalam kata yang mengatasnamakan “AJAL”. Ragaku akan terbaring lemah dipemakaman  yang terselimuti desakkan tangis dan DOA.

Senin, 10 Juni 2013

True Friend


What is a true friend? A true friend says what they think their friend needs to hear even when they know that their friend may get angry. A true friend doesn't leave because they are afraid to be with you. A true friend doesn't leave when the fun stops and things get uncomfortable There are just of few of the values that real friends hold dear. In short, A true friend recognizes the value of the friendship and holds it sacred. #FriendPoems

Renungan


Hidup adalah suatu awal menuju kematian
Hidup adalah suatu pergiliran kebahagiaan dan penderitaan
Hidup adalah suatu kegelisahan dan kelegaan
Hidup adalah kebahagian dan penderitaan

Berbahagialan ketika anda menderita dengan bersabar
Berbahagialah anda ketika memang harus berbahagia dengan bersyukur
Karena hidup adalah kebahagiaan walaupun sebenarnya menderita hancur

Betapa penderitaan menjadi bahagia kala kita meresapi bahwa kita masih bernafas sementara lainnya harus mati dan fana.
Betapa bahagianya hidup jika kita bersyukur atas nikmat yang ada.

Betapa bahagianya hidup jika kita bersabar atas derita yagn ada.
#Anonim