Minggu, 23 Juni 2013

Pertemuan Yang Menggetarkan

Panggil Aku Za’…!
Hiruk pikuk suasana kelas tiba – tiba menyepi “Selamat pagi semuaaaaa … “ seluruh pasang mata tiba – tiba tertegun. “Perkenalkan saya Mirza Aditya asisten dosen disini, kebetulan hari ini pak Amri berhalangan hadir jadi saya menggantikan beliau,  panggil saya kak Za’ “
Za’ itu namanya, entah mengapa rasanya aku pernah bertemu dengan pria ini, tapi dimana ? Wajahnya tidak asing bagiku. Dia amat sangat tampan, badannya yang tegap, dan suaranya tegas sebagai lambang bahwa dia mampu melindungi wanita. Senyumannya seperti mampu meruntuhkan pintu  hatiku yang selama ini ku tutup rapat setelah kesakitan 2 tahun yang lalu. Sebuah pengkhianatan dari seorang pria yang akhirnya mengurungkan niatku untuk menjalin hubungan lagi. Hubungan dimana anak remaja masa kini mengemasnya dalam bentuk kata “PACARAN”. Bagiku cinta lelaki itu ibarat nasi yang telah diendapkan  berhari – hari “BASI”. Namun semuanya seakan melebur dengan kehadiran kak Za’. Ketampanannya menjadi topik pembahasan seluruh mahasiswi dikelas yang membuat para lelaki cemburu. Seakan tak ada lagi tempat dihati mereka selain Za’. Seantero sudut kampus berceloteh hangat tentang parasnya yang muskil untuk dikatakan biasa. “ Siapa yah gadis yang beruntung menjadi pacar kak Za’ ?” sekelumit pertanyaan mampu menyulap sikap seluruh mahasiswi dikelasku. Mereka kini berlomba mendapatkan perhatian sang ASDOS tampan  itu, bahkan setiap kali pertemuan di kelas beberapa mahasiswi yang jarang mengacungkan tangan justru menjadi ramah bertanya. Mereka amat sangat bersemangat ketika kak Za’ mulai menjelaskan materi. Satu hal lagi yang menjadi penyulut kegirangan mereka bahwa sang ASDOS tampan itu belum punya pacar.
Yah belum punya pacar “tapi apa kak Za’ mau melirikku ? aku yang hanya gadis biasa, yang berpakaian ala apa adanya, bahkan seluruh peralatan wanita sebagai simbol feminisme sudah ku singkirkan dari hidupku dua tahun  yang lalu. Aku hanya ingin fokus pada prestasiku.
Dalam setiap pertemuan dikelas kak Za’ hampir bersikap biasa saja pada seluruh mahasiswi, hanya mereka saja yang terkadang ke Ge_eR_an.
Sore hari di balkon kamarku, ketika matahari mulai bergerak keperaduannya. wajah sang ASDOS terbenam  dalam  memoriku, tatanan rambutnya yang begitu apik, hidungnya yang mirip dengan aktor film India, garis wajahnya yang menunjukkan bahwa dia bukan orang nusantara asli, yang belakangan aku ketahui  bahwa dia hampir 8 tahun tinggal di Eropa menyelesaikkan studinya dalam Ilmu manajemen. Pantas saja kalau  parasnya tidak mencerminkan wajah Indo kebanyakan. Senyumannya yang begitu khas.  Pesonanya mampu membangkitkan partikel – partikel cinta  yang menusuk sukmaku. Kak Za’ tidak hanya tampan tapi juga cerdas. Dan…… tiba – tiba handphoneku berdering pertanda sms masuk,

“ Nilai tugasmu bagus, Excellent!
By K’ Za”

Ku baca berulang - ulang pesan singkat itu, berusaha meyakinkan diriku bahwa aku tidak sedang bermimpi. Ya ini nomor Kak Za’ yang aku save waktu pertemuan pertama ketika dia memperkenalkan dirinya dikelas.
****

Rentetan kisah berjalan seiring waktu yang kukuh membuka lebar ruang keakraban antara aku dan sang ASDOS. Sesekali kami hang out bersama diakhir pekan secara sembunyi – sembunyi agar teman – teman sekelas tidak mengetahuinya. Pernah di suatu waktu kami jalan berdua ke toko buku dan berpapasan bersama Leli dan Rika, teman sekalasku,. Aku hampir gusar mencari alasan yang tepat untuk meyembunyikan kedekatan kami. Untungnya kak Za’ bisa mencari alasan jitu yang membuat mereka percaya.
****
Seorang laki-laki yang mampu membuat awan gelap dalam hidupku lenyap, dan merubahnya menjadi pelangi yang indah. Seorang lelaki yang selalu memberikan kenyamanan bagiku, dia sangat paham bagaimana cara memperlakukan wanita, dia begitu menghargaiku. Pernah disuatu waktu kak Za’ menolongku saat aku hampir keserempet mobil dipenyeberangan. Inilah momen yang membuat dadaku bergerilya setengah mati saat berada dipelukannya.
****
 08.15 p.m di kafe Mentari, aku dan kak Za’ duduk dmeja no.5. Pertemuan yang menggetarkan bias – bias rindu itu kini terpercik dalam hatiku. Matanya benar-benar menghipnotisku dan membawaku masuk ke dalam dimensinya. Dimensi yang sebenarnya sudah lama aku nantikan, dimensi dimana tak ada beban sedikitpun, yang ada hanya bahagia, tawa, dan ceria. “kak Za’, aku benar-benar menyukaimu, tidak, bukan hanya suka, aku mencintaimu, sangat mencintaimu”, ucapku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri melihatnya yang sedang asyik bercerita tentang pengalaman pertamanya hidup di Eropa. “ Ayunda ”, suara pelan yang membuatku terpanah….. bibirku terkatup tak tahu harus menjawab apa. Kak Za’ melanjutkan ceritanya “ Nda, bukannya kk gak mencintaimu. Sungguh aku sangat mencintaimu.” Kak Za’ berbicara sambil mengeluarkan selembar foto dari sakunya. Foto Wanita dan lelaki yang memakai seragam putih abu – abu dan kelihatannya mereka begitu akrab. Ku cermati sekali lagi foto itu. Wajah wanita itu sangat mirip denganku, ya dia Anindya yang tak lain adalah  kakakku, dan lelaki itu adalah orang yang  kini ada dihadapanku. “aku mendambamu hanya sebagai adik Nda”. Pijakan ekspektasiku runtuh bagai diterjang angin tornado super dari segala penjuru, terlebih lagi foto itu, ternyata kak Za’ adalah pacar kakakku. Almarhumah kak Nindya yang meninggal 5 tahun yang lalu, karena kecelakaan mobil bersama pacarnya yang tak lain adalah Mirza Aditya. Kak Nindya sempat koma 2 bulan sebelum akhirnya meninggal dunia. Orang tuaku amat membenci lelaki ini, dia pergi dengan tidak bertanggung jawab 5 tahun yang lalu. Saat kak Nindya sedang kritis dia malah mengasingkan diri ke luar negeri. Mataku nanar, butiran – butiran air mata jatuh dari pelipisku tanpa permisi. Aku seperti tak percaya, aku sempat melihat foto mereka sekitar 6 tahun yang lalu. Dulu aku hidup bersama Oma di kampung.
“ Aku mendekatimu  hanya untuk membalas rasa bersalahku 5 tahun yang lalu saat aku tak bisa lagi bertemu Nindya, aku diasingkan ke Eropa oleh pamanku yang tak lain adalah pak Amri, tidak ada pilihan lain bagiku karena aku kesana juga dalam kondisi koma. Aku minta maaf dik,,,,
“ Apa maaf ? setelah kau buat kakakku menderita dan kau datang lagi sebagai orang yang baru dikehidupanku. Kau buat semuanya berantakkan  pada akhirnya. Apa – apaan ini ? Kau paksa aku menikam saudaraku sendiri dengan skenariomu. Kau JAHAT Za’… Pergi kamu dari sini!” seketika respekku pada lelaki ini hilang. Aku berlari keluar dari kafe itu,dan menyetop sebuah taksi. Ku cerca diriku habis – habisan karena selama  ini aku terlambat menyadarinya. Logikaku hilang tenggelam bersamaan dengan hadirnya pesona kak Za’.
****
4 hari berlalu dengan kegalauan  tiada tara, ku putuskan untuk segera masuk kampus hari ini setelah absen dengan alasan sakit. Persaanku telah ku rajut seperti semula, tidak ada lagi bekas sedih yang terlukis di wajahku. Kembali ku kuatkan  hatiku untuk memulai semuanya dari awal. Kemarin aku dengar dari Rika kalau kak Za’ akan menikah dengan seorang gadis, gadis yang ternyata teman sekelasnya waktu di Eropa dulu. Sudahlah, aku tak mau pusing memikirkannya. Cinta sejati itu tidak hadir untuk saling menyakiti. Aku membiarkan masa lalu pergi untuk mempersilahkan yang terbaik datang di masa depanku.

Dear my past time : Thanks for all the lessons
Dear my future : I am Ready

“Di tempat peraduanku merajut Asa”
Kota Daeng 23 Juni 2013
Malam di penghujung bulan Shaban

Tidak ada komentar:

Posting Komentar