Panggil
Aku Za’…!
Hiruk
pikuk suasana kelas tiba – tiba menyepi “Selamat pagi semuaaaaa … “ seluruh
pasang mata tiba – tiba tertegun. “Perkenalkan saya Mirza Aditya asisten dosen
disini, kebetulan hari ini pak Amri berhalangan hadir jadi saya menggantikan
beliau, panggil saya kak Za’ “
Za’
itu namanya, entah mengapa rasanya aku pernah bertemu dengan pria ini, tapi
dimana ? Wajahnya tidak asing bagiku. Dia amat sangat tampan, badannya yang
tegap, dan suaranya tegas sebagai lambang bahwa dia mampu melindungi wanita. Senyumannya
seperti mampu meruntuhkan pintu hatiku
yang selama ini ku tutup rapat setelah kesakitan 2 tahun yang lalu. Sebuah
pengkhianatan dari seorang pria yang akhirnya mengurungkan niatku untuk menjalin
hubungan lagi. Hubungan dimana anak remaja masa kini mengemasnya dalam bentuk
kata “PACARAN”. Bagiku cinta lelaki itu ibarat nasi yang telah diendapkan berhari – hari “BASI”. Namun semuanya seakan
melebur dengan kehadiran kak Za’. Ketampanannya menjadi topik pembahasan
seluruh mahasiswi dikelas yang membuat para lelaki cemburu. Seakan tak ada lagi
tempat dihati mereka selain Za’. Seantero sudut kampus berceloteh hangat
tentang parasnya yang muskil untuk dikatakan biasa. “ Siapa yah gadis yang
beruntung menjadi pacar kak Za’ ?” sekelumit pertanyaan mampu menyulap sikap
seluruh mahasiswi dikelasku. Mereka kini berlomba mendapatkan perhatian sang
ASDOS tampan itu, bahkan setiap kali
pertemuan di kelas beberapa mahasiswi yang jarang mengacungkan tangan justru
menjadi ramah bertanya. Mereka amat sangat bersemangat ketika kak Za’ mulai
menjelaskan materi. Satu hal lagi yang menjadi penyulut kegirangan mereka bahwa sang ASDOS tampan itu belum punya pacar.
Yah
belum punya pacar “tapi apa kak Za’ mau melirikku ? aku yang hanya gadis biasa,
yang berpakaian ala apa adanya, bahkan seluruh peralatan wanita sebagai simbol
feminisme sudah ku singkirkan dari hidupku dua tahun yang lalu. Aku hanya ingin fokus pada
prestasiku.
Dalam
setiap pertemuan dikelas kak Za’ hampir bersikap biasa saja pada seluruh mahasiswi,
hanya mereka saja yang terkadang ke Ge_eR_an.
Sore
hari di balkon kamarku, ketika matahari mulai bergerak keperaduannya. wajah
sang ASDOS terbenam dalam memoriku, tatanan rambutnya yang begitu apik,
hidungnya yang mirip dengan aktor film India, garis wajahnya yang menunjukkan
bahwa dia bukan orang nusantara asli, yang belakangan aku ketahui bahwa dia hampir 8 tahun tinggal di Eropa menyelesaikkan
studinya dalam Ilmu manajemen. Pantas saja kalau parasnya tidak mencerminkan wajah Indo
kebanyakan. Senyumannya yang begitu khas.
Pesonanya mampu membangkitkan partikel – partikel cinta yang menusuk sukmaku. Kak Za’ tidak hanya
tampan tapi juga cerdas. Dan…… tiba – tiba handphoneku berdering pertanda sms
masuk,
“ Nilai tugasmu bagus, Excellent!
By K’ Za”
Ku baca berulang - ulang pesan
singkat itu, berusaha meyakinkan diriku bahwa aku tidak sedang bermimpi. Ya ini
nomor Kak Za’ yang aku save waktu pertemuan pertama ketika dia memperkenalkan
dirinya dikelas.
****
Rentetan kisah berjalan seiring
waktu yang kukuh membuka lebar ruang keakraban antara aku dan sang ASDOS. Sesekali
kami hang out bersama diakhir pekan secara sembunyi – sembunyi agar teman –
teman sekelas tidak mengetahuinya. Pernah di suatu waktu kami jalan berdua ke toko
buku dan berpapasan bersama Leli dan Rika, teman sekalasku,. Aku hampir gusar
mencari alasan yang tepat untuk meyembunyikan kedekatan kami. Untungnya kak Za’
bisa mencari alasan jitu yang membuat mereka percaya.
****
Seorang
laki-laki yang mampu membuat awan gelap dalam hidupku lenyap, dan merubahnya
menjadi pelangi yang indah. Seorang lelaki yang selalu memberikan kenyamanan
bagiku, dia sangat paham bagaimana cara memperlakukan wanita, dia begitu menghargaiku.
Pernah disuatu waktu kak Za’ menolongku saat aku hampir keserempet mobil
dipenyeberangan. Inilah momen yang membuat dadaku bergerilya setengah mati saat
berada dipelukannya.
****
08.15 p.m di kafe Mentari, aku dan kak
Za’ duduk dmeja no.5. Pertemuan yang menggetarkan bias – bias rindu itu kini
terpercik dalam hatiku. Matanya benar-benar menghipnotisku dan membawaku masuk
ke dalam dimensinya. Dimensi yang sebenarnya sudah lama aku nantikan, dimensi
dimana tak ada beban sedikitpun, yang ada hanya bahagia, tawa, dan ceria. “kak
Za’, aku benar-benar menyukaimu, tidak, bukan hanya suka, aku mencintaimu,
sangat mencintaimu”, ucapku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri melihatnya
yang sedang asyik bercerita tentang pengalaman pertamanya hidup di Eropa. “ Ayunda ”, suara pelan yang membuatku
terpanah….. bibirku terkatup tak tahu harus menjawab apa. Kak
Za’ melanjutkan ceritanya “ Nda, bukannya kk gak mencintaimu. Sungguh aku sangat
mencintaimu.” Kak Za’ berbicara sambil mengeluarkan selembar foto dari sakunya.
Foto Wanita dan lelaki yang memakai seragam putih abu – abu dan kelihatannya
mereka begitu akrab. Ku cermati sekali lagi foto itu. Wajah wanita itu sangat
mirip denganku, ya dia Anindya yang tak lain adalah kakakku, dan lelaki itu adalah orang yang kini ada dihadapanku. “aku mendambamu hanya
sebagai adik Nda”. Pijakan ekspektasiku runtuh bagai diterjang angin tornado
super dari segala penjuru, terlebih lagi foto itu, ternyata kak Za’ adalah pacar
kakakku. Almarhumah kak Nindya yang meninggal 5 tahun yang lalu, karena
kecelakaan mobil bersama pacarnya yang tak lain adalah Mirza Aditya. Kak Nindya
sempat koma 2 bulan sebelum akhirnya meninggal dunia. Orang tuaku amat membenci
lelaki ini, dia pergi dengan tidak bertanggung jawab 5 tahun yang lalu. Saat
kak Nindya sedang kritis dia malah mengasingkan diri ke luar negeri. Mataku
nanar, butiran – butiran air mata jatuh dari pelipisku tanpa permisi. Aku seperti
tak percaya, aku sempat melihat foto mereka sekitar 6 tahun yang lalu. Dulu
aku hidup bersama Oma di kampung.
“
Aku mendekatimu hanya untuk membalas rasa
bersalahku 5 tahun yang lalu saat aku tak bisa lagi bertemu Nindya, aku
diasingkan ke Eropa oleh pamanku yang tak lain adalah pak Amri, tidak ada
pilihan lain bagiku karena aku kesana juga dalam kondisi koma. Aku minta maaf
dik,,,,
“
Apa maaf ? setelah kau buat kakakku menderita dan kau datang lagi sebagai orang
yang baru dikehidupanku. Kau buat semuanya berantakkan pada akhirnya. Apa – apaan ini ? Kau paksa aku
menikam saudaraku sendiri dengan skenariomu. Kau JAHAT Za’… Pergi kamu dari
sini!” seketika respekku pada lelaki ini hilang. Aku berlari keluar dari kafe
itu,dan menyetop sebuah taksi. Ku cerca diriku habis – habisan karena selama ini aku terlambat menyadarinya. Logikaku
hilang tenggelam bersamaan dengan hadirnya pesona kak Za’.
****
4
hari berlalu dengan kegalauan tiada tara,
ku putuskan untuk segera masuk kampus hari ini setelah absen dengan alasan sakit.
Persaanku telah ku rajut seperti semula, tidak ada lagi bekas sedih yang
terlukis di wajahku. Kembali ku kuatkan hatiku untuk memulai semuanya dari awal. Kemarin
aku dengar dari Rika kalau kak Za’ akan menikah dengan seorang gadis, gadis
yang ternyata teman sekelasnya waktu di Eropa dulu. Sudahlah, aku tak mau
pusing memikirkannya. Cinta sejati itu tidak hadir untuk saling menyakiti. Aku
membiarkan masa lalu pergi untuk mempersilahkan yang terbaik datang di masa
depanku.
Dear my past time : Thanks for all
the lessons
Dear my future : I am Ready
“Di
tempat peraduanku merajut Asa”
Kota Daeng 23 Juni 2013
Malam di penghujung bulan Shaban
Kota Daeng 23 Juni 2013
Malam di penghujung bulan Shaban
Tidak ada komentar:
Posting Komentar