Kepada mereka yang selalu berkata
bahwa “Diam itu adalah Emas” namun sampai saat ini masih kucari dimana emas itu
berada kala aku hadir untuk menorehkan namaku sebagai salah satu pemegang
prinsipnya. Dikala aku menjadi ada dalam ketidaktahuanku mencari definisinya,
berulah untuk mengabadikan diriku dalam kepura – puraan yang tak sengaja ku
dapati wujudnya dalam satu kondisi yang muskil untuk dikatakan bahwa ini adalah
kebetulan. Bacalah ini dan semoga dikau paham maksudku, dan mari kita pahami
bersama…!
DIAM…
Diam
memang hanyalah sebuah sikap. Diam tak mampu menerobos nurani seseorang untuk
menjadi seperti apa yang kau pinta. Diam juga takkan mampu melampiaskan segenap
kemarahan yang ingin kau tumpahkan. Diam takkan berbohong untuk berdusta. Diam
takkan mengartikan yang tak bermakna. Diam takkan marah meski berkali – kali
kau khianati. Jangan kau anggap bahwa diam berarti berhenti berbicara.
Karena
diam tidak pernah bercermin pada bongkahan kaca yang buram. Diam bukanlah
kemarahan, dimana dewi kemarahan selalu bersanding dengan emosi yang meluap –
luap, egoisme tingkat tinggi, dan selalu ingin merasa benar. Diam bukanlah
penolakan yang tak terbantahkan. Diam sungguh sangat sederhana. Diam belum
sanggup membuat orang yang kau harapkan untuk segera peka akan halmu. Diam
hanya bisa tersenyum ramah ketika yang lain menjadi marah. Diam selalu
menerima, dikala yang lain mengabaikanmu. Diam itu peduli, dikala mereka begitu
antipati. Diam hanya bisa terjaga, tatkala yang lain menjadi lalai. Diam selalu
mengelus dada, karena diam tak ingin menjadi kalang kabut. Diam itu menjadi
gagap dihadapan mereka dan begitu fasih di hadapan sang MAHA. Jangan kau cari
DIAM dihadapan para pengecut yang selalu menjadikan retorika sebagai amunisi
sejati. Karena DIAM hanya ada dihati orang – orang ikhlas, yang mengandalkan
Allah sebagai pendengar sejati. Diam takkan pernah ada dihati orang – orang
sombong, dan hadir dibualan orang – orang pecundang. Diam tinggal dalam nurani
yang meyakini bahwa sesungguhnya kebenaranlah yang akan menunjukkan siapa yang
benar. Diam berkarib akrab dengan mereka yang percaya bahwa “Tuhanku, Tuhanmu,
Tuhannya, dan Tuhan kita semua adalah dzat yang ESA adanya.”
Ditempat pembaringan kala kantuk
melanda
Juni menuju Juli
“Ratna Sari Devi”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar