Tua
Adalah Pasti Tapi Dewasa Adalah Pilihan
"Emang kedewasaan seseorang
itu gak bisa diukur dari umur, tapi dari pemikiran dan sikap" itulah
status twitter salah satu followers saya. ok sekarang kita bahas tentang
kedewasaan, perlu digarisbawahi, semua yg saya tulis tidak menutup kemungkinan
sang penulis juga masih tidak dewasa. dan kita (anak muda) sedang menuju ke
proses dewasa tersebut.
"Tua adalah pasti tapi
Dewasa adalah pilihan". Ya menjadi dewasa adalah pilihan yang musti kita
ambil dalam menjalani hidup ini, kerena dengannya kehidupan ini menjadi lebih
terwarnai dan lebih 'berasa'. jikalau saja kedewasaan tidak ada tak bisa
dibayangkan bagaimana keadaan dunia ini, mungkin sebentar-bentar perang,
sebentar-bentar ngambek, atau sebentar-bentar angot-angotan menjalankan
aktivitasnya. Maka dari itu tulisan ini ada, yuk sama-sama manakar tingkat
kedewasaan kita.
Untuk mengukur tingkat kedewasaan
kita, kita bisa melihat dari beberapa hal berikut ini, mungkin dan pasti tidak
komplit, tàpi akan membantu kita memudahkan untuk mengetahui seberapa tinggi
tingkat kedewasaan kita.
Sikap, Berikut ini adalah
sikap-sikap yang menunjukkan kedewasaan seseorang, sopan, menghargai dan
menghormati orang lain, tidak memandang rendah orang lain, ada kepedulian
sosial, selalu mengutamakan dialog dalam menyelesaikan persoalan dan beberapa
sikap positif lainnya, prinsipnya, semakin tinggi tingkat positifitas sikap
kita, maka semakin tinggi tingkat kedewasaan kita.
Diam aktif, Kemampuan diri dalam
berkomentar. orang yang memiliki kedewasaan dapat dilihat dari sikap dan
kemampuannya dalam mengendalikan lisannya. Seorang anak kecil pasti apa yang ia
lihat ia komentari baik itu baik atau buruk. Tetapi orang yang dewasa ia bisa
mengendalikan lisannya dalam mengomentari sesuatu, singkatnya difikirkan
(bertafakkur) dahulu sebelum mengomentari, apakah bermanfaat, apakah menyakiti
ataukah tidak.
Sifat lain sekali dengan sikap,
sikap bisa kita pelajari, tapi sifat, susah untuk di ubah, hanya jika kita bisa
mencapai alam pikir yang dewasa kita bisa mengubah sifat kita, namun demikian,
bimbingan rohani dan pengetahuan akan banyak membantu kita mengendalikan sifat
kita, berikut ini sedikit contoh sifat yang menunjukkan kedewasaan pola pikir
seorang manusia, tidak egois, sabar, penuh pengertian, menyenangkan, ramah,
bijak, jujur tentu saja, dan beberapa sifat negatif lainnya.
Cara Bicara
Cara bicara yang teratur,
terarah, tertata menujukkan kedewasaan seseorang, tapi TIDAK MUTLAK, karena
banyak salesman yang bicaranya minta ampun bagusnya tapi kelakuan dan sikapnya
jauh dari apa yang di katakannya, isi dan topik pembicaraan lebih tepat di
jadikan ukuran, dan bagaimana cara penyampaiannya. Dalam dunia militer orang
akan lebih cepat mencapai tingkat kedewasaan itu, terutama dalam pendidikan Perwira.
Konsekwensi
Hal terakhir ini kunci utama
mengukur tingkat kedewasaan seorang manusia, manusia dewasa selalu bertanggung
jawab dengan apa yang di katakan dan di perbuatnya, baik atau buruk, bahkan
meski nyawa taruhannya. Sikap pengecut dan suka melarikan diri dari persoalan
menunjukkan rendahnya tingkat kehidupan manusia, atau bisa dikatakan tidak
gentle. Selebihnya, Anda harus mencari tahu sendiri, karena saya juga harus
melihat diri sendiri untuk mencari tahu apakah saya sudah 'cukup' dewasa untuk
mengatakan hal ini.
Empati, Dapat meraba atau
merasakan perasaan orang lain. Seorang anak kecil yang sedang bermain mainan
miliknya lalu datang anak kecil yang lain dengan sendirinya ia akan menghindar
agar mainannya tidak juga dimainkan oleh kawannya tersebut. seorang yang dapat
ber empati InsyaAllah akan semakin bijak. Tidak akan bijaksana orang yang hanya
memikiran perasaan dirinya sendiri.
Wara' dalam bertindak, Orang yang
dewasa benar-benar berhitung tidak sembarangan memilih kata, mengambil keputusan,
dan mengambil sikap. karena orang yang tidak dewasa cenderung untuk bersikap
ceroboh. The last but not the least.
Sabar, Dalam situasi sesulit
apapun lebih tenang, mantap dan stabil. Sahabat seseorang yang dewasa benar -
benar memiliki sikap yang amanah, memiliki kemampuan untuk bertanggungjawab.
Karena sabar juga dalam mengemban amanah jika ia tidak sabar dalam amanah, maka
dengan sendirinya ia tidak bertanggungjawab.
Oscar Oasis - Ilustrasi Saja
“Dewasa” sebuah kata sederhana
tapi sarat makna. Kata yang mampu menyejukkan hati pendengarnya, mampu membuat
mata betah berlama-lama terpaut pada penyandangnya. Dewasa selalu diidamkan
oleh khalayak, terutama anak-anak. Apakah Anda termasuk salah satu orang yang
mengidamkan kedewasaan? Jawaban Anda atas pertanyaan tersebut bisa dijadikan
salah satu indikator tingkat kedewasaan Anda.
Sampai saat ini, belum ditemukan
standar baku kapan dan dalam usia berapa seseorang akan mencapai kedewasaan
karena belum ada ukuran tunggal untuk menentukan tingkat kedewasaan seseorang.
Meskipun demikian, aspek-aspek berikut dapat dijadikan faktor penentu sementara
untuk mengukur tingkat kedewasaan seseorang, di antaranya perasaan, sikap, cara
pandang, orientasi, usia (hal ini menyangkut aspek jasadiah) dan perilaku. Oleh
karena itu, secara umum kedewasaan dapat dilihat dari bebrapa aspek, di antaranya:
Dewasa secara fisik, indikatornya
adalah ketika organ-organ reproduksi telah telah berfungsi secara optimal, atau
secara singkat ketika seseorang telah mencapai baligh.
Dewasa secara psikologis,
indikatornya adalah adanya kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau
konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan.
Dewasa secara sosial-ekonomi,
yang ditampakkan dengan kemampuan seseorang untuk mandiri, mampu membiayai
kebutuhan hidup sendiri dan menangani berbagai hal dengan kemampuan sendiri.
Indikator Tidak Dewasa
Selain mengetahui indikator
kedewasaan, maka perlu pula diketahui beberapa indikator ketidakdewasaan, di
antaranya:
Emosional. Salah satu hal yang
membedakan orang dewasa dengan anak-anak adalah dalam berprilaku. Anak-anak
mengalami proses merasakan, bertindak, kemudian akhirnya merasakan. Sementara
orang dewasa, ia akan berpikir terlebih dahulu, bertindak, kemudian baru
akhirnya ia akan merasakan. Artinya, orang yang dewasa akan bersikap tenang,
penuh pertimbangan dalam mengambil setiap keputusan, ia tidak akan terjebak
oleh emosi, perasaan dan pengaruh lingkungan semata. Tidak akan ditemukan orang
dewasa yang emosinya meledak-ledak tanpa terkontrol. Bagaimana dengan Anda?
Egois. Egois merupakan ciri dari
seseorang yang belum dewasa. Setiap orang memiliki ego, namun orang yang belum
dewasa sering melampaui egonya sehingga menjadi egois, tentu saja ia tidak
menyadari bahwa dirinya egois. Semakin egois seseorang, semakin jauh ia dari
pencapaian kedewasaan.
Tidak konsisten. Dasar dari
seseorang yang dewasa adalah konsisten. Sikap sebaliknya adalah indikator
seseorang belum dewasa, artinya ketika seseorang mudah terpengaruh oleh hal-hal
baru yang merusak komitmen sebelumnya, maka orang tersebut belum dapat
digolongkan ke dalam orang yang dewasa.
Tidak tepat janji. Kedewasaan
seseorang juga dapat diukur dari perkataannya. Bila perkataannya dapat dipegang
dan dipercaya, maka kedewasaannya teruji. Akan tetapi jika perkataan yang
dikeluarkannya hanya sekedar kata tanpa bukti nyata, bahkan dengan mudah ia
ingkari maka itu merupakan ciri ketidakdewasaan seseorang.
Tidak bertanggungjawab. Sebagai
hamba, manusia dituntut untuk bertanggungjawab atas apa-apa yang dilakukannya,
baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Rasa tanggung jawab
ini hanya ada dalam pikiran orang dewasa. Ketika didapati ada orang yang
bingung dengan tanggungjawabnya dan sering mencari kambing hitam untuk
melimpahkan tanggung jawab ini, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan telah
dewasa.
Suka bersembunyi. Setiap manusia
tentu akan akan dihadapkan pada masalah dalam hidupnya, masalah-masalah yang
datang tersebut tidak jarang akan muncul dalam bentuk yang sangat sulit,
sehingga mencapai tahap yang sangat kritis. Pada saat kritis, saat itu pulalah
kedewasaan seseorang diuji. Orang yang belum dewasa akan memilih lari dari
masalah tersebut dan bersembunyi, sementara orang yang dewasa akan mengahadapi
masalah tersebut seberat apapun ia merasakannya.
Hanya merespon ketika ada
paksaan. Orang yang belum dewasa adalah orang yang merespon hanya ketika ada
paksaan atau tekanan. Ketika ia mendapatkan seruan yang sifatnya ajakan saja,
jarang ia akan meresponnya. Ia akan merespon ketika ada imbalan yang akan
diberikan kepadanya, baik itu berupa hadiah jika merespon atau sanksi jika
tidak melaksanakannya.
Tunggu apa lagi? Mari kita
berlomba-lomba menjadi sosok yang benar-benar dewasa!
“Tua adalah sebuah kepastian,
sedangkan dewasa adalah pilihan” (Anonim)
Di manakah Anda akan memposisikan
diri? Apakah beranjak semakin tua dengan kedewasaan yang makin meningkat, atau
beranjak semakin tua tanpa diiringi kedewasaan? Tentukan pilihanmu sekarang!
Wallahu’alam bishawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar