Teruntuk
dia lelaki dari kota rantau ini...
Entah
sudah berapa lama aku menangis, setengah jam, satu jam, atau lebih dari dua
jam?
Aku
benar – benar tak peduli, hatiku hanya ingin menangis sampai air mata ini benar
– benar habis. Semakin kuat, semakin ia mampu mengurangi denyut luka dalam
hatiku ini. Pernahkah kalian merasa terlalu sedih hingga tak bisa menangis?
Terlalu lelah untuk beristirahat?
Malam
ini hatiku hancur berserakan. Ku luapkan tangisku dalam kesendirian, terserap
lubang besar yang menganga disini, didalam hatiku. Saya terluka diatas kerikil
tajam sifatmu, berkali – kali saya mencoba bangkit namun debu pengkhianatan itu
kau usapkan habis melumuri hatiku yang kian hancur. Kasih benarkah ini adanya
dirimu? Kau corengkan aku kesakitan yang begitu hebat, aku terlunta – lunta tak
jelas mencari perlindungan. Saya lemah, saya rapuh, dan saya hampir ingin mati.
Kau pergi tanpa sebab musabab yang jelas. Berkilah bahwa kau sudah tak ingin
lagi melanjutkan kisah kita. Padahal harap, angan – angan masa depan telah
tertuju padamu sepenuhnya. Aku ingin kau menjadi tempat terkhir untuk berlabuh,
aku ingin kau menjadi titik akhir dari susunan kisah cinta ini. Namun, apa
dayaku?? Kau menyiksaku dengan bayangan gelapmu, kau hancurkan semuanya.
Bagaiman bisa saya akan baik – baik saja setelah ini? Bagaimana bisa dengan
angkuhnya kau pergi? Bagaimana saya akan menjalani semuanya lagi? Aku mohon
mengertilah....Tangis ini belum usai kasih... Saya menunggumu....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar