Minggu, 26 Januari 2014

Januari malam ke-20



Teruntuk dia lelaki dari kota rantau ini...
Entah sudah berapa lama aku menangis, setengah jam, satu jam, atau lebih dari dua jam?
Aku benar – benar tak peduli, hatiku hanya ingin menangis sampai air mata ini benar – benar habis. Semakin kuat, semakin ia mampu mengurangi denyut luka dalam hatiku ini. Pernahkah kalian merasa terlalu sedih hingga tak bisa menangis? Terlalu lelah untuk beristirahat?
Malam ini hatiku hancur berserakan. Ku luapkan tangisku dalam kesendirian, terserap lubang besar yang menganga disini, didalam hatiku. Saya terluka diatas kerikil tajam sifatmu, berkali – kali saya mencoba bangkit namun debu pengkhianatan itu kau usapkan habis melumuri hatiku yang kian hancur. Kasih benarkah ini adanya dirimu? Kau corengkan aku kesakitan yang begitu hebat, aku terlunta – lunta tak jelas mencari perlindungan. Saya lemah, saya rapuh, dan saya hampir ingin mati. Kau pergi tanpa sebab musabab yang jelas. Berkilah bahwa kau sudah tak ingin lagi melanjutkan kisah kita. Padahal harap, angan – angan masa depan telah tertuju padamu sepenuhnya. Aku ingin kau menjadi tempat terkhir untuk berlabuh, aku ingin kau menjadi titik akhir dari susunan kisah cinta ini. Namun, apa dayaku?? Kau menyiksaku dengan bayangan gelapmu, kau hancurkan semuanya. Bagaiman bisa saya akan baik – baik saja setelah ini? Bagaimana bisa dengan angkuhnya kau pergi? Bagaimana saya akan menjalani semuanya lagi? Aku mohon mengertilah....Tangis ini belum usai kasih... Saya menunggumu....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar