January silam ….
Hujan di awal januari
selalu saja setia menghampiri. Tepat setahun silam kita bertemu, membawa kenangan
yang begitu angkuh untuk disudahi. Ya, diam – diam hujan di pagi itu merajut
perkenalan singkat antara kau dan aku. Wanita yang berlari tergesa – gesa menerobos
derasnya hujan saat arloji menunjukkan
10 menit lagi waktu presentasi makalah di mulai. Tiba – tiba saja sodoran payung
menghentikan langkah yang kian tergesa – gesa. Kita berjalan beriringan dalam
bisu. Setelan pakaian kampus sudah terlanjur basah namun aku masih tetap
semangat untuk berjalan. “Siapa namamu?” dengan suara kecil dia bertanya. Aku
yang sedari tadi hanya menunduk memperhatikan langkahku sedikit menatap ke
arahnya. “Oh, Riana” jawabku. Setelah itu hanya percikkan air hujan yang
terdengar. 15 menit kemudian aku mengayunkan tubuhku berlari menuju gerbang
kampus, tak lupa ku ucapkan terima kasih padanya.
5 hari setelahnya kami
kembali bertemu tanpa sengaja di sebuah kafe baca, tempat favorit dimana ku
habiskan waktuku untuk mengerjakkan tugas. Obrolan singkatpun dimulai, intinya
saya mengenalmu dan kau mengenalku. Lebih dari itu kami hanya sering bertemu
dalam pesan singkat yang kian hari kian terasa intensnya. Entah bagaimana mulanya,
namun rasa kepemilikan terhadapmu kian gencar menembus rasa malu – malu di awal
pertemuan itu. Kita mulai sering berkomunikasi via telepon, sampai perasaan ini
muncul. Perasaan yang mungkin sudah sepatutnya ku kecup dalam bingkai “wanita
dewasa”. Entah bagaimana denganmu, yang pasti setiap kali kau memberi kabar,
semakin besar keyakinanku kalau kau pun memilki rasa yang sama. Enggan rasanya
bertemu, enggan rasanya menyudahi cerita dibalik bilik telepon. Kita sama –
sama tertawa, sama – sama bahagia, dan sama – sama berbagi cerita. Serasa ada
magnet yang kuat yang membuatku harus terus peduli padamu, walau kepastian
antara kita masih perlu dipertanyakan. Tidak ada panggilan khas untuk kita
seperti para insan yang sedang menjalani hubungan kekaraban pada umumnya. Kita
berjalan dan berlalu begitu saja. Kau dan aku nyaman menjalaninya. Mungkin saja
kita sama – sama mulai bosan dengan siklus kehidupan yang mengharuskan
perkenalan dilanjutkan dengan pertemuan dan setelah itu kandas. Atau mungkin
saja kita sama – sama pengecut yang menjalani hubungan dengan ketidak pastian
yang amat parah. Bagaimanapun alasannya kita tak pernah memulai untuk memberi kepastian,
kita juga tak pernah sepakat untuk saling memberi harapan. Semua terjadi tanpa
perlu kita sangsikan.
Dan kau hilang, jejakmu
sudah tak mampu ku ikuti terhitung sejak kita sama2 sepakat untuk tidak lagi
berbicara lewat udara. Saya menurutinya, karena memang kita tak bisa melanjutkan,
melanjutkan apa? Melanjutkan sesuatu yang antara kau dan akupun masih samar
untuk mencernanya. Ah, sudahlah toh kehidupanku bukan tempat persinggahan yang
seharusnya kau singgahi. Tidak ada dermaga yang membuat kita patut untuk
berlabuh. Dan KITA AKHIRI tanpa kita tau kapan kita benar – benar memulainya.
Waktu benar – benar berlalu
meninggalkan keakraban yang telah patah. Ah, ternyata rinai hujan masih sudi
menyandarkan pertemuan antara kita. Yah, kita bertemu, wanita dan lelaki yang
sama2 menggandeng tangan kita tentu saja heran. Ingin ku tumpahkan saja rindu
yang tak sempat berjabat kala hujan setahun lalu, namun redup senja terlanjur
menghampiri di awal cerita. Terima kasih telah tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar