Jumat, 03 Januari 2014

Terima Kasih Telah Tersenyum

January silam ….

Hujan di awal januari selalu saja setia menghampiri. Tepat setahun silam kita bertemu, membawa kenangan yang begitu angkuh untuk disudahi. Ya, diam – diam hujan di pagi itu merajut perkenalan singkat antara kau dan aku. Wanita yang berlari tergesa – gesa menerobos derasnya hujan  saat arloji menunjukkan 10 menit lagi waktu presentasi makalah di mulai. Tiba – tiba saja sodoran payung menghentikan langkah yang kian tergesa – gesa. Kita berjalan beriringan dalam bisu. Setelan pakaian kampus sudah terlanjur basah namun aku masih tetap semangat untuk berjalan. “Siapa namamu?” dengan suara kecil dia bertanya. Aku yang sedari tadi hanya menunduk memperhatikan langkahku sedikit menatap ke arahnya. “Oh, Riana” jawabku. Setelah itu hanya percikkan air hujan yang terdengar. 15 menit kemudian aku mengayunkan tubuhku berlari menuju gerbang kampus, tak lupa ku ucapkan terima kasih padanya.

5 hari setelahnya kami kembali bertemu tanpa sengaja di sebuah kafe baca, tempat favorit dimana ku habiskan waktuku untuk mengerjakkan tugas. Obrolan singkatpun dimulai, intinya saya mengenalmu dan kau mengenalku. Lebih dari itu kami hanya sering bertemu dalam pesan singkat yang kian hari kian terasa intensnya. Entah bagaimana mulanya, namun rasa kepemilikan terhadapmu kian gencar menembus rasa malu – malu di awal pertemuan itu. Kita mulai sering berkomunikasi via telepon, sampai perasaan ini muncul. Perasaan yang mungkin sudah sepatutnya ku kecup dalam bingkai “wanita dewasa”. Entah bagaimana denganmu, yang pasti setiap kali kau memberi kabar, semakin besar keyakinanku kalau kau pun memilki rasa yang sama. Enggan rasanya bertemu, enggan rasanya menyudahi cerita dibalik bilik telepon. Kita sama – sama tertawa, sama – sama bahagia, dan sama – sama berbagi cerita. Serasa ada magnet yang kuat yang membuatku harus terus peduli padamu, walau kepastian antara kita masih perlu dipertanyakan. Tidak ada panggilan khas untuk kita seperti para insan yang sedang menjalani hubungan kekaraban pada umumnya. Kita berjalan dan berlalu begitu saja. Kau dan aku nyaman menjalaninya. Mungkin saja kita sama – sama mulai bosan dengan siklus kehidupan yang mengharuskan perkenalan dilanjutkan dengan pertemuan dan setelah itu kandas. Atau mungkin saja kita sama – sama pengecut yang menjalani hubungan dengan ketidak pastian yang amat parah. Bagaimanapun alasannya kita tak pernah memulai untuk memberi kepastian, kita juga tak pernah sepakat untuk saling memberi harapan. Semua terjadi tanpa perlu kita sangsikan.

Dan kau hilang, jejakmu sudah tak mampu ku ikuti terhitung sejak kita sama2 sepakat untuk tidak lagi berbicara lewat udara. Saya menurutinya, karena memang kita tak bisa melanjutkan, melanjutkan apa? Melanjutkan sesuatu yang antara kau dan akupun masih samar untuk mencernanya. Ah, sudahlah toh kehidupanku bukan tempat persinggahan yang seharusnya kau singgahi. Tidak ada dermaga yang membuat kita patut untuk berlabuh. Dan KITA AKHIRI tanpa kita tau kapan kita benar – benar memulainya.

Waktu benar – benar berlalu meninggalkan keakraban yang telah patah. Ah, ternyata rinai hujan masih sudi menyandarkan pertemuan antara kita. Yah, kita bertemu, wanita dan lelaki yang sama2 menggandeng tangan kita tentu saja heran. Ingin ku tumpahkan saja rindu yang tak sempat berjabat kala hujan setahun lalu, namun redup senja terlanjur menghampiri di awal cerita. Terima kasih telah tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar