Tips
menerjemahkan “bacaan” bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia
1. Sebelum
menerjemahkan pastikan terlebih dahulu jenis teks apa yang akan diterjemahkan
(Genre). Genre bacaan bisa terlihat dari judulnya. Misalnya : genre novel, atau
ilmiah (formal). Ketika genre bacaan
adalah novel berarti penggunaan bahasanya bisa lebih casual.
2. Bacalah
“bacaan” tersebut minimal 3 kali. Ingatlah bahwa menerjemahkan berbeda dengan
membaca. Kalau membaca dengan mengerti poin – poin pentingnya kita bisa memahami
maksud bacaan, tetapi menerjemahkan berarti membuat pembaca mengerti dan
memahami bacaan yang kita terjemahkan. Janganlah menerjemahkan kata per kata.
3. Mulailah
menerjemahkan. Ingatlah bahwa satu kalimat dalam bahasa Inggris bisa menjadi
dua kalimat terjemahan, asal kalimat terjemahan tersebut tidak rancu. Think out
of the box.
4.
Gunakan kaidah penulisan bahasa
Indonesia yang benar (perhatikan tanda bacanya).
5. Setelah
menrjemahkan bacalah berulang kali hasil terjemahan tersebut untuk menilai
hasil terjemahanmu, atau mintalah kepada temanmu untuk membaca dan memberi masukan.
Berikut ini contoh terjemahan novel bahasa Inggris
ke dalam bahasa Indonesia by Anita Noveria
“I never eat anything for luncheon,” she said.
“Oh, don’t say that!” I answered generously.
“I never eat more than one thing. I think people eat
far too much nowadays. A little fish, perhaps. I wonder if they have any
salmon.”
Well,
it was early in the year for salmon and it was not on the bill of fare, but I asked
the waiter if there was any. Yes, a beautiful salmon had just come in; it was
the first they he had. I ordered it for my guest. The waiter asked her if she
would have something while it was being cooked.
“No,” she answered, “I never eat more than one
thing. Unless you have a little caviare. I never mind caviare.”
My heart sank a little. I knew I could not afford caviare,
but I could not very well tell her that. I told the waiter by all means to
bring caviar. For myself I chose the cheapest dish on the menu, and that was a
mutton chop.
“I
think you’re unwise to eat meat,” she said. “I don’t know how you can expect to
work after eating heavy things like chops. I don’t believe in overloading my
stomach.”
Then came the question of drink.
“I never drink anything for luncheon,” she said.
“Neither do I,” I answered promptly.
“Expect white wine,” she proceeded as though I had
not spoken. “These French white wines are so light. They’re wonderful for the
digestion.”
“What would you like?” I asked, hospitable still,
but not exactly effusive.
She gave me a bright and amicable flash of her white
teeth.
:My doctor won’t let me drink anything but
champagne.”
From The luncheon by W.S. Maugham.
“Aku
nggak biasa makan siang” kata wanita itu.
“Oh ayolah,” jawabku sedikit memaksa.
“Aku
nggak pernah makan lebih dari satu jenis makanan. Belakangan ini banyak orang
yang makan melebihi porsi yang seharusnya. Seekor ikan salmon kecil saja sudah
cukup bagiku.”
Sebenarnya
ini cukup awal bagi para pengunjung yang ingin menyantap salmon, bahkan belum
tersedia dalam daftar makanan yang ada. Lalu aku bertanya kepada seorang
pelayan apakah kami sudah bias memesannya. Dari kejauhan seekor salmon yang nampak
begitu menggiurkan menghampiri meja kami lebih cepat dibanding menu yang kami
pesan sebelumnya. Lagi – lagi pelayan tersebut bertanya apakah masih ada yang
ingin dipesan selagi menu yang diinginkan masih dipersiapkan.
“Tak
usah,” jawabnya. “Aku
ngga boleh makan terlalu banyak. Tapi, jika ada seekor kaviar, bolehlah.”
Hatiku
menggerutu dalam diam. Aku menyadari betul akan ketidakmampuanku memesan seekor
kaviar untuknya. Betapa saya merasa kehilangan akal menemukan cara untuk
memberitahunya. Dengan nada suara sedikit pelan, aku pun meminta pelayan untuk
membawakan kaviar. Aku sendiri hanya memesan sepiring daging kambing yang tidak
lain adalah menu paling murah yang ada direstoran itu.
“Kamu
ngga seharusnya makan daging,” tegasnya. “Aku heran bagaimana mungkin kamu bisa
bekerja setelah memakan makanan berat sejenis daging yang justru akan melebihi
kapasitas untuk pencernaan manusia.”
Kali ini kami beralih membahas minuman.
“Aku
ngga pernah minum sembarangan pada saat makan siang,”
lagi – lagi wanita berucap hal serupa.
“Oh, sama kalo gitu,” jawabku sekilas.
“Kecuali anggur putih,” tegasnya seakan tidak
mempedulikan respon yang ku berikan.
Anggur putih khas Prancis ini begitu nikmat. Ini
cocok untuk pencernaan.
Ia lalu dia sembari menghadiahkan sebuah senyuman
manis dengan kilauan gigi putihnya yang begitu memesona.
“Dokterku tidak mengizinkanku untuk itu kecuali
sampanye.”
Dari The Luncheon oleh W.S. Maugham.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar