Jumat, 03 Januari 2014

Tips menerjemahkan "Bacaan" Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia (Lengkap)

Tips menerjemahkan “bacaan” bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia

1.      Sebelum menerjemahkan pastikan terlebih dahulu jenis teks apa yang akan diterjemahkan (Genre). Genre bacaan bisa terlihat dari judulnya. Misalnya : genre novel, atau ilmiah (formal). Ketika  genre bacaan adalah novel berarti penggunaan bahasanya bisa lebih casual.
2.      Bacalah “bacaan” tersebut minimal 3 kali. Ingatlah bahwa menerjemahkan berbeda dengan membaca. Kalau membaca dengan mengerti poin – poin pentingnya kita bisa memahami maksud bacaan, tetapi menerjemahkan berarti membuat pembaca mengerti dan memahami bacaan yang kita terjemahkan. Janganlah menerjemahkan kata per kata.
3.      Mulailah menerjemahkan. Ingatlah bahwa satu kalimat dalam bahasa Inggris bisa menjadi dua kalimat terjemahan, asal kalimat terjemahan tersebut tidak rancu. Think out of the box.
4.      Gunakan kaidah penulisan bahasa Indonesia yang benar (perhatikan tanda bacanya).         
5.      Setelah menrjemahkan bacalah berulang kali hasil terjemahan tersebut untuk menilai hasil terjemahanmu, atau mintalah kepada temanmu untuk membaca dan memberi  masukan.


 Berikut ini contoh terjemahan novel bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia by Anita Noveria

“I never eat anything for luncheon,” she said.
“Oh, don’t say that!” I answered generously.
“I never eat more than one thing. I think people eat far too much nowadays. A little fish, perhaps. I wonder if they have any salmon.”
            Well, it was early in the year for salmon and it was not on the bill of fare, but I asked the waiter if there was any. Yes, a beautiful salmon had just come in; it was the first they he had. I ordered it for my guest. The waiter asked her if she would have something while it was being cooked.
“No,” she answered, “I never eat more than one thing. Unless you have a little caviare. I never mind caviare.”
My heart sank a little. I knew I could not afford caviare, but I could not very well tell her that. I told the waiter by all means to bring caviar. For myself I chose the cheapest dish on the menu, and that was a mutton chop.
            “I think you’re unwise to eat meat,” she said. “I don’t know how you can expect to work after eating heavy things like chops. I don’t believe in overloading my stomach.”
Then came the question of drink.
“I never drink anything for luncheon,” she said.
“Neither do I,” I answered promptly.
“Expect white wine,” she proceeded as though I had not spoken. “These French white wines are so light. They’re wonderful for the digestion.”
“What would you like?” I asked, hospitable still, but not exactly effusive.
She gave me a bright and amicable flash of her white teeth.
:My doctor won’t let me drink anything but champagne.”

From The luncheon by W.S. Maugham.




“Aku nggak biasa makan siang” kata wanita itu.
            “Oh ayolah,” jawabku sedikit memaksa.
“Aku nggak pernah makan lebih dari satu jenis makanan. Belakangan ini banyak orang yang makan melebihi porsi yang seharusnya. Seekor ikan salmon kecil saja sudah cukup bagiku.”
            Sebenarnya ini cukup awal bagi para pengunjung yang ingin menyantap salmon, bahkan belum tersedia dalam daftar makanan yang ada. Lalu aku bertanya kepada seorang pelayan apakah kami sudah bias memesannya. Dari kejauhan seekor salmon yang nampak begitu menggiurkan menghampiri meja kami lebih cepat dibanding menu yang kami pesan sebelumnya. Lagi – lagi pelayan tersebut bertanya apakah masih ada yang ingin dipesan selagi menu yang diinginkan masih dipersiapkan.
“Tak usah,” jawabnya. “Aku ngga boleh makan terlalu banyak. Tapi, jika ada seekor kaviar, bolehlah.”
            Hatiku menggerutu dalam diam. Aku menyadari betul akan ketidakmampuanku memesan seekor kaviar untuknya. Betapa saya merasa kehilangan akal menemukan cara untuk memberitahunya. Dengan nada suara sedikit pelan, aku pun meminta pelayan untuk membawakan kaviar. Aku sendiri hanya memesan sepiring daging kambing yang tidak lain adalah menu paling murah yang ada direstoran itu.
“Kamu ngga seharusnya makan daging,” tegasnya. “Aku heran bagaimana mungkin kamu bisa bekerja setelah memakan makanan berat sejenis daging yang justru akan melebihi kapasitas untuk pencernaan manusia.”
Kali ini kami beralih membahas minuman.
“Aku ngga pernah minum sembarangan pada saat makan siang,” lagi – lagi wanita berucap hal serupa.
“Oh, sama kalo gitu,” jawabku sekilas.
“Kecuali anggur putih,” tegasnya seakan tidak mempedulikan respon yang ku berikan.
Anggur putih khas Prancis ini begitu nikmat. Ini cocok untuk pencernaan.
Ia lalu dia sembari menghadiahkan sebuah senyuman manis dengan kilauan gigi putihnya yang begitu memesona.
“Dokterku tidak mengizinkanku untuk itu kecuali sampanye.”


Dari The Luncheon oleh W.S. Maugham.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar